T r a f f i c k i n g
Sabtu, 15 Januari 2011 | 14:04 WIB
Cerpen Sakinah Annisa Mariz
Darah kental kehitam-hitaman muncrat dari bibir mungilnya yang kering dan pucat. Anak perempuan kecil yang dipukuli itu hanya bisa bernafas lemah, tanpa berusaha membuka matanya.
Di kamar yang gelap dan sempit, seorang anak perempuan menangis di sudut ranjang. Tubuh rapuhnya dibalut selimut yang tebal. Seorang lelaki berbadan tegap dan tinggi masuk ke dalam kamar, menyingkapkan selimut yang membalut tubuh perempuan itu sehingga tubuhnya yang kecil terpelanting di atas ranjang.
“Hei anak sialan! Kenapa kau tak mau melayani tamu-tamuku! Dasar tak tahu diri! Kau pikir bisa gratis hidup di sini ya! Sial! Sial! Sial!” Lelaki itu terus-terusan memukuli tubuh perempuan kecil itu dengan jari-jari dan kepalan tangannya yang kokoh.
Darah kental kehitam-hitaman muncrat dari bibir mungilnya yang kering dan pucat. Anak perempuan kecil yang dipukuli itu hanya bisa bernafas lemah, tanpa berusaha membuka matanya. Sedari pagi, sudah 19 orang tamu yang dilayaninya dengan tersiksa. Hingga malam ini, tak sebutir nasi pun masuk ke mulutnya. Sejak terbangun dari tidurnya yang sebentar-sebentar terjaga, dia hanya diberikan segelas air dingin dan sebutir pil kecil, pil anti hamil. Hari ini sudah tiga kali dia pingsan ketika sedang melayani tamu-tamunya. Namun, bukan iba yang terpancar di mata lelaki-lelaki berwajah setan itu, malah perlakuan yang semakin bringas dan bernafsu yang didapatinya.
Sejenak terdengar suara rintihan yang menyayat dari kamar itu, serupa rintihan seorang tahanan yang menanti detik-detik eksekusinya. Anak kecil itu, seperti sudah kehilangan seperempat jiwanya! Salah! Bukan seperempat, malah seluruhnya! Dia sudah tak bernyawa lagi sejak lelaki besar dan hitam itu menghantamkan tinjunya tepat ke ulu hatinya.
Tanpa rasa bersalah, kemudian lelaki itu membopong tubuhnya yang ringkih menuju halaman balakang. Halaman terlarang yang hanya bisa bisa ditemukan setelah melalui lorong-lorong sempit dan lembab. Pada ujung lorong, terdapat sebuah ruangan kecil beratap terbuka yang hanya boleh dimasuki oleh orang-orang kepercayaan Tuan Besar Fredo. Tidak ada yang menarik dari ruangan gelap itu kecuali kloset kotor yang berada persis di tengah-tengah ruangan dan beberapa lampu pijar yang sudah putus bola lampunya.
Pintu ruang kecil itu dibukanya dan dibantingkannya keras hingga dinding-dindingnya yang kehijau-hijauan bergetar. Dia menekan sakelar lampu dengan tangan kiri, sedangkan tangan lainnya mendekap sebuah gulungan besar yang tersampir di bahu kanannya.
Dia sedikit membungkuk ketika berusaha menyurukkan gulungan manusia itu kedalam sebuah lubang raksasa yang berada persis di sudut timur ruangan. Lubang raksasa dengan kedalaman 8 meter yang sarat oleh mayat-mayat perempuan yang dulunya bekerja di rumah terkutuk itu. Ketika dia menggeser penutup lubang, yaitu berupa lempengan besi padu dengan garis tengah lingkarannya sekitar 2 meter, tiba-tiba selulernya berdering. Nama Tuan Besar Fredo muncul berkedip-kedip di layar selulernya, cahayanya menerangi kulit wajahnya yang hitam dan mulai dibubuhi bintik-bintik keringat. Dengan gugup disahutnya telepon Tuan Besar Fredo dan diletakkannya gulungan itu tepat di bawah kakinya.
*** Dari atap ruangan yang terbuka, angin berhembus begitu kencangnya. Mungkin malam ini akan turun hujan deras, seperti malam-malam sebelumnya. Biasanya jika malam hujan, pelanggan yang mendatangi rumah terkutuk itu akan bertambah banyak. Tak jarang Boris mendapat keuntungan yang berlipat ganda dari hasil pelayanan gadis-gadis yang memuaskan pelanggan. Walaupun setiap harinya ada saja gadis yang harus dilenyapkan karena penyakit kelamin akut atau meninggal secara tiba-tiba, itu tidak jadi masalah. Ada banyak stok daur-ulang yang selalu diganti tiap minggunya dengan tingkat usia yang berbeda-beda. Stok itu sebenarnya bukan “barang baru” lagi, namun perempuan-perempuan yang berasal dari rumah terkutuk lain yang disubtitusikan ke rumah terkutuk lain yang berbeda wilayahnya. Misalnya saja dari wilayah X, ditukar ke wilayah Y, begitu seterusnya.
Boris yang bertanggung jawab untuk memetakan wilayah daur-ulang itu agar tidak terjadi persinggahan rumah yang sama dalam dua kali. “Barang baru” diselipkan dalam rute perjalanan sebagai “pengganti” dari yang sudah lenyap ataupun dilenyapkan sehingga bisnis Boris tidak pernah mengalami pasang-surut. Selayaknya hukum demand dan suply dalam teori ekonomi, keberadaan suply (penyediaan) “barang-barang” itu akan terus eksis selama masih ada demand (permintaan) dari konsumennya. Boris paham sekali akan teori ekonomi itu dan selalu berupaya untuk melaksanakan tugasnya dengan cermat dan hati-hati. Sedikit saja gerak-geriknya tercium oleh pihak berwajib, maka hancur binasalah karir dan seluruh jaringannya.
Angin dingin berhembus lagi, mengelus-elus pipi dan tengkuknya yang pias. Kali ini deru angin semakin kencang sementara percakapannya dengan Tuan Besar Fredo di telepon semakin memanas. Tanpa sengaja, angin meniup gulungan selimut diletakkannya di lantai itu dengan kerasnya hingga menyibakkannya. Sebagian atas gulungan itu mulai merekah. Sebuah kepala anak perempuan berumur 13 tahun menyeruak dari dalamnya. Lampu neon berdaya 15 watt itu cukup membantu untuk mengenali wajah kecilnya.
Wajah itu membeku tengadah ke langit hitam pekat. Angin dingin semakin terasa dingin menusuk tulang-tulang dan persendian, terlebih darah yang mengental kehitam-hitaman di sepanjang bibir mungil itu! Aih! Wajah itu terlihat begitu tegang dan kaku, seolah ingin menunjukkan dendam yang selama ini menggumpal di dada, bibir dan kemaluannya.
Sekejap, anyir darah mulai merebak di ruangan. Angin menolong wajah kecil kaku senandungkan lagu kematian. Bola matanya masih bening terbuka, menceritakan kesakitan dan kepedihan yang mendera-dera jiwa dan raganya selama dua bulan ini. Dari hidungnya yang bangir, menyembul noda biru kehitam-hitaman yang tak sempat tertangkap cahaya remang-remang di kamar pengap itu. Pada wajahnya yang tirus, melekat garis-garis kelabu meninggalkan jejak, serupa coretan yang mewarnai pipi putih mulusnya. Jejak-jejak yang bersumber dari lidah-lidah kotor lelaki berperangai iblis.
Malam ini, semua terasa lain. Aroma kretek yang sengaja disulut Boris saat Tuan Besar Fredo memulai pembicaraan tak dapat menghangatkan dadanya dari degup angin dan tatapan dingin anak perempuan yang terbungkus selimut itu. Tiba-tiba saja rasa gugup menggerilya jantungnya, menyulitkan bibirnya menghisap kretek itu lebih dalam. Dia hanya mencicipi sedikit asap dari filternya lalu buru-buru menghembuskannya keluar.
Tatapan mata anak kecil itu lagi-lagi menyurutkan semangatnya untuk berbicara dengan Tuan Besar Fredo. Wajah anak perempuan yang pasi dengan ekspressinya dinginnya, seolah-olah mencekik semua nafas Boris yang tersisa. Boris terengah-engah dalam kepulan kreteknya sendiri. Dia hanya mengatakan “ya” pada setiap pertanyaan yang di lontarkan Tuan Besar Fredo tanpa sedikitpun memikirkannya. Matanya tak bisa lepas dari wajah mungil yang membujur dibalik selimut itu. Anyir darah merebak lagi, membaur dengan desau angin yang kadang-kadang berbunyi seperti tangisan anak kecil yang menyedihkan.
Jalanan memerah, langkah menyerah Nafas dan nyawa mengepul seperti asap rokok lelaki dewasa Hari-hari memekat di ruangan pengap, terali kematian Simpang jalan merah tempatku berteduh Dari malam yang selalu berujung pada kesakitan panjang
Boris tersentak dari lamunannya, sekilas dia melihat wajah itu seperti berpuisi padanya. Boris, lelaki bertubuh tegap dan berpostur tinggi dengan kulit hitam berkilat menghirup kreteknya dengan jantung yang berdegup tak karuan. Sekali lagi terdengar makian Tuan Besar Fredo membentak. “Bagaimana? Sudah kau cari ke tiap rumah-rumah bordil berengsek itu!!! Bodoh! Bodoh! Kenapa kalian bisa kecolongan!” Tuan Besar Fredo memaki Boris, tak sabar dengan jawabannya yang lamban. “Sudah Tuan, tapi memang aku kesulitan menemukan jejaknya, mungkin sudah dibawa ke negeri M.”
Boris menjawab sekenanya, meski pandangan matanya tak luput dari tubuh halus anak perempuan yang mencuat dari rekahan selimut tebal itu. Tubuh yang tegang dan kaku. Lekuk tubuhnya ringkih, dibalut luka dan lebam yang tak akan hilang meski tulang-tulangnya memutih. Tahi lalat kecil membulat jelas di bawah kantung mata kiri dan satu lagi berada tepat di atas pusarnya.
“BODOH!!! Kenapa kau tak bisa mencarinya! Aku sudah menyuruhmu dua bulan lalu! Aku juga sudah mengirimkan fotonya! Memberi wewenang seluas-luasnya untuk mencari anak perempuanku!
BODOH KAU BORIS! Aku tak mau tahu, pokoknya kau harus temukan Dhisty! Sekalipun mayatnya, aku bersedia membayarnya! Persetan dengan harga! Beritahu aku segera, siapa orang yang bertugas menculiknya dan kepala mucikari mana yang menahannya, SECEPATNYA BODOH!” “Baik Tuan, besok saya kabari” Tuuut...tuuut... Boris menekan tombol merah di handphonenya.
Amarah Tuan Besar Fredo dan tatapan dingin wajah dibalik selimut itu membuat nyalinya semakin ciut dan kerdil. Berkali-kali dia menghisap kreteknya dengan gugup. Selembar foto yang tak pernah disentuhnya sejak mandat dari Tuan Besar Fredo dikeluarkan 2 bulan lalu, akhirnya tersembul juga dari balik amplop cokelatnya yang lembab. Foto anak perempuan kecil, berusia 13 tahun yang memiliki tahi lalat di bawah kantung mata sebelah kirinya.
Medan, KSI 2010
Nama saya Sakinah Annisa Mariz. Merupakan Mahasiswi Universitas Negeri Medan (UNIMED), Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, yang saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Cabang Medan.
Adapun karya-karyanya berupa Antalogi Cerpen Bersama Artefak, Cerita Pendek Indonesia.2009, Antalogi Cerpen Bersama, Cermin dan Kumpulan Puisi bersama Suara Peri dan Mimpi,2010. Essay, cerpen, dan puisinya dimuat di Harian Analisa, Waspada, Medan Bisnis, Harian Global, dan Majalah YoungsMagazine.
Daftar Blog Saya
Jumat, 14 Januari 2011
Rabu, 29 Desember 2010
Refleksi akhir tahun
Disela kesibukan melakukan ziarah kehidupan dibawah tenda langit biru yang penuh misteri, bukanlah menjadi suatu folkways (keharusan) untuk mengucap syukur, namun mengingat penyertaan Sang pemilik Kehidupan yang masih mengijinkan kita untuk merenda hari-hari indah dikekinian dunia maka semua kidung pujian serta Mazmur syukur patut kita kidungkan ke hadirat-Nya Yang Kudus.
2 hari lagi tahun 2010 akan berkahir dan kita akan memasuki tahun yang baru, 2011. Sebagai manusia kadang kita merasa senang, puas, sedih dan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hati kala kita berhasil melaksanakan sesuatu dengan baik. Tapi kadang kita meneteskan airmata, bersungut, muram dan entah ekspresi apa yang telah kita lakukan kala sesuatu yang kita harapkan ternyata jauh dari impian. Jika kita melihat kembali perjalanan hidup selama setahun minus 2 hari ini, ada begitu banyak godaan, cercaan, kesuksesan dan berbagai macam kisah yang berbeda telah dilalui.
Ada saudara, kakak, adik, ayah, ibu, isteri, suami, teman, sahabat dan berbagai kenalan yang telah dipanggil oleh Yang MAha Kuasa untuk mendahului kita kemabli kepangkuan-Nya. Sedih memang rasanya kehilangan mereka, tetapi Allah pasti telah menyediakan sesuatu yang terbaik bagi mereka.
Banyak rencana juga yang telah disusun untuk tahun 2011 mendatang dengan asa bahwa ditahun mendatang, segala sesuatunya akan lebih baik dari tahun ini.....namun ingatlah bahwa: "DUNIA INI CUKUP UNTUK SEMUA ORANG TAPI TIDAK CUKUP UNTUK SEORANG YANG TAMAK HATINYA"
Selamat Natal 25 Desember 2010 dan Bahagia di Tahun Baru 1 Januari 2011.
Tuhan Senantiasa Memberkati dan menyertai seluruh perjalanan karya kita dalam upaya meraih cita, citra dan cinta kita.....
2 hari lagi tahun 2010 akan berkahir dan kita akan memasuki tahun yang baru, 2011. Sebagai manusia kadang kita merasa senang, puas, sedih dan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hati kala kita berhasil melaksanakan sesuatu dengan baik. Tapi kadang kita meneteskan airmata, bersungut, muram dan entah ekspresi apa yang telah kita lakukan kala sesuatu yang kita harapkan ternyata jauh dari impian. Jika kita melihat kembali perjalanan hidup selama setahun minus 2 hari ini, ada begitu banyak godaan, cercaan, kesuksesan dan berbagai macam kisah yang berbeda telah dilalui.
Ada saudara, kakak, adik, ayah, ibu, isteri, suami, teman, sahabat dan berbagai kenalan yang telah dipanggil oleh Yang MAha Kuasa untuk mendahului kita kemabli kepangkuan-Nya. Sedih memang rasanya kehilangan mereka, tetapi Allah pasti telah menyediakan sesuatu yang terbaik bagi mereka.
Banyak rencana juga yang telah disusun untuk tahun 2011 mendatang dengan asa bahwa ditahun mendatang, segala sesuatunya akan lebih baik dari tahun ini.....namun ingatlah bahwa: "DUNIA INI CUKUP UNTUK SEMUA ORANG TAPI TIDAK CUKUP UNTUK SEORANG YANG TAMAK HATINYA"
Selamat Natal 25 Desember 2010 dan Bahagia di Tahun Baru 1 Januari 2011.
Tuhan Senantiasa Memberkati dan menyertai seluruh perjalanan karya kita dalam upaya meraih cita, citra dan cinta kita.....
Sabtu, 23 Oktober 2010
Horizontal
PETER & TINA
Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.
Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."
Peter: "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang." (keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"
Peter: "Eh? permainan apaan?"
Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"
Peter: "baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."
Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"
Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. katanya film itu bagus"
Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya... ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."
Peter : "Boleh juga..." (mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang
malam harinya)
Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.
Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.
Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.
Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya.
Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh.
Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.
Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup
lilin ulang tahunnya.
Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.
Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang" kemudian peramal itu meneteskan air mata.
Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil
berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.
Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.
15:20 pm
Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja.
Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.
15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik.
Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput.
Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.
Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.
23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"
Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...
PS:
Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan
pernah kembali lagi.
True love doesn't have a happy ending, because true love never ends....
Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.
Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi waktu denganku."
Peter: "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang." (keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"
Peter: "Eh? permainan apaan?"
Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"
Peter: "baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan ke depan."
Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"
Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen deh. katanya film itu bagus"
Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke karaoke ya... ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."
Peter : "Boleh juga..." (mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang
malam harinya)
Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe, suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.
Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.
Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.
Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay. Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya.
Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan melihat bintang jatuh.
Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.
Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup
lilin ulang tahunnya.
Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.
Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China. Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang" kemudian peramal itu meneteskan air mata.
Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil
berpegangan tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.
Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.
15:20 pm
Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja.
Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta selalu macet.
15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu. Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik.
Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput.
Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi terlihat damai. Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan erat. Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat dalam di hatinya. Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.
Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.
23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"
Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...
PS:
Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan
pernah kembali lagi.
True love doesn't have a happy ending, because true love never ends....
Langganan:
Postingan (Atom)